Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Selalu Salahkan Petani Padi Gunung Atas Fenomena Kabut Asap

Pengertian kabut asap adalah asap pekat yang melanda satu daerah atau lebih dalam jumlah yang besar dan menyebar membuat pernapasan terganggu dan mata menjadi perih. Kabut asap juga termasuk bencana karena kabut asap terjadi karena hasil dari pembakaran lahan. Kalau lambat diatasi juga bisa memakan korban termasuk bayi, balita dan anak-anak serta juga orang dewasa karena terkena penyakit ISPA.

Selain itu kalau labat diatasi juga bisa menyebar ke daerah perkampungan warga serta membakar kebun para warga contohnya saja yang sering terbakar akibat pembakaran lahan adalah pohon karet yang sudah panen baik yang belum panen. Kemarau Pada tahun 2015 ini ada memakan korban jiwa dan juga banyak kebun-kebun warga yang terbakar.

Para pemadam kebakaran juga kualahan memadamkan api karena selain ketersediaan air, anggota yang kurang banyak, serta medan yang sulit dijakau membuat api leluasa menyebar.
Tetapi disisi lain terkadang saya kasian sama petani lokal karena jadi sasaran penangkapan atas pembakaran lahan tempat mereka berladang.

Bahkan mereka dilarang membakar lahan tempat mereka berladang sedangkan dari zaman kakek nenek orang tua mereka zaman dahulu yaitu dengan berladang menanam padi gunung. Mereka berladang sekali setahun, dan hasil panen untuk mencukupi kebutuhan beras sehingga dengan berladang setiap tahunnya mereka tidak membeli beras.

Coba bayangkan jika para petani itu dilarang membakar lahan mereka?
Alasan pertama kenapa mereka membakar ;
1. Mereka tidak bisa menanam benih padi (manugal) apabila tidak dibakar.  Nah kalau begitu makan apa mereka? Siapa yang mau memberi beras atau menjamin kelangsungan hidup mereka apabila petani yang berladang dilarang membakar. Yang melarang mau ga kasih beras gratis tiap bulan? Di kasih beras bolok! Mana mereka mau makan yang kadang baras bolok itu bau, berwarna kuning, berjamur dan berkutu (tidak layak konsumsi). Mentang-mentang orang tak punya di kasih sembarangan. Makanya mendingan mereka berladang nanam padi sendiri untuk makan keluarga.

2. Hasil dari pembakaran ladang ,Abunya danfaatkan sebagai pupuk alami jadi para petani padi gunung tidak menggunakan pupuk kimia untuk pertumbuhan padinya sampai masa panen. Begitu juga yang dilakukan nenek moyang mereka dulu.Nah kalau tidak dibakar bagaimana padinya bisa tumbuh alami dan subur? Karena mereka tidak memakai pupuk kimia hanya mengandalkan pupuk alami dari abu hasil pembakaran. Pernah mengikuti program pemerintah dengan tidak membakar lahan pertanian tetapi hasilnya hama yang melanda padi-padi petani karena tumpukan rumput dan kayu-kayu yang ditumpuk jadi satu tidak dibakar sehingga sarang hama tikus serta hama yang lainnya membuat gagal panen. Terkadang rumit juga kalau dipikir-pikir.

Tanah sebagian besar berjenis gambut di kalimantan sangat sulit untuk bertanam padi sawah. Hanya daerah-daerah tertentu yang bisa terutama daerah trans penduduk pendatang yang dari luar kalimantan yang banyak bercocok tanam padi sawah.

Selain pengalaman dan pengetahuan petani lokal yang minim tentang padi sawah sangat sulit untuk mereka mencoba bertanam padi sawah. Proses yang rumit serta banyak tahap dan biaya yang mahal membuat petani lokal tetap mempertahankan kebiasaan nenek moyang zaman dahulu beratanam padi gunung. Selain sudah terbiasa dengan rasa padi gunung yang alami dan tidak keras jika dingin membuat lidah masyarakat dayak menyukai padi gunung dibandingkan padi sawah.

3. Petani padi gunung daerah kalimantan terkadang memiliki lebih dari satu tempat berladang sehingga setiap 1 tahun mereka bisa berpindah-pindah sampai menemukan tempat berladang yang cocok. Sehingga hampir setiap tanah yang belum digarap maka ketika musim kemarau mereka garap untuk menjadi ladang baru  tempat menanam padi gunung.

4. Karena petani lokal padi gunung daerah kalimantan memiliki lebih dari satu ladang maka biasanya sehabis panen mereka menanam pohon karet di ladang mereka sihingga setiap ladang yang ditinggalkan ada yang mereka tanam dan salah satu dari tanaman yang cocok di daerah gambut yaitu pohon karet/gita. Makanya kalimantan salah penghasil karet terbesar di Indonesia.

Jadi mereka tidak hanya membuka lahan yang bertujuan membersihkan tanah lalu dibakar dan ditinggalkan begitu saja tetapi hasil dari pembukaan lahan atau pembakaran lahan mereka jadikan tempat menyambung hidup dengan bertanam padi gunung dan setelah itu menanam pohon karet.
Begitu yang dilakukan secara turun temurun. 

Akan tetapi zaman sekarang ada oknom-oknom tertentu yang dengan sengaja membakar lahan yang dengan tujuan hanya membersihkan tanahnya dan ini biasanya terjadi pada lahan kosong daerah perkotaan bahkan terkadang pembakaran dan kabut asap yang pekat itu terjadi di daerah perkotaan padahal masa pembakaran lahan tempat berladang petani padi gunung di perkampungan belum waktunya.

Para petani padi gunung juga tidak sembarangan membakar ladangnya, bahkan biasanya jika sudah ada muncul hujan. Sehingga jika terbakar apinya tidak meluas ke daerah yang lain. Jika mereka membakar juga mereka beritahu kepada masyarakat sekitar yang memiliki kebun disekeliling sehingga bisa sama-sama menjaga api. Selain itu mereka juga membekali dengan mesin pompa air agar jika api menyebar bisa mereka langsung padamkan.

Sampai sekarang masih belum ada solusi untuk petani padi gunung yang ada hanya bisa melarang mereka membakarnya saja bahkan mereka ditangkap, menangkap bukanlah solusi untuk petani padi gunung bahkan membuat masalah baru bagi mereka. Yang dilain sisi para investor dari luar yang menguasai tanah mereka pembukaan lahan yang berpuluh kali lipat dari petani padi gunung dan bahkan cara mereka membersihkan lahannya juga dengan membakar.

Coba yang ditangkap mereka itu. Kalau petani padi gunung hanya sebagian kecil saja dari masyarakat yang berladang tidak sampai membuat kabut asap sampai kenegara tetangga.

Terkadang pemerintah juga lamban menanggapi kabut asap yang melanda. Kalau sudah parah baru ramai mencari bantuan dari sana sini. Heboh mencari siapa yang bertanggung jawab, coba heboh cari pakai memadamkan api.

Ya pada intinya saya hanya berharap ada solusi yang tepat untuk petani padi gunung sehingga tida menjadi sasaran penangkapan dan tidak hanya bisa melarang para petani tetapi bisa memberi jalan keluar. Sehingga bisa sama-sama makan heee. Para petani hanyalah orang-orang kecil yang patut kita bela juga, dibandingkan perusahaan2 yang membuka lahan sawit yang juga membuat kabut asap.

Posting Komentar untuk "Jangan Selalu Salahkan Petani Padi Gunung Atas Fenomena Kabut Asap"